Aliansi BUMI KITA: Dari Sebuah Ide Menjadi Aksi Kolektif untuk Masyarakat dan Lingkungan

Foto bersama pembentukan Aliansi BUMI KITA pada November 2023
Foto bersama saat disepakatinya pembentukan Aliansi BUMI KITA dalam pertemuan refleksi dan orientasi kemitraan pada November 2023.

Indonesia, dengan lebih dari 17.000 pulau dan rumah bagi 10% spesies flora dan fauna dunia, memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa. Namun, negara ini juga berada di garis depan dalam menghadapi ancaman lingkungan. Menurut data Global Forest Watch, Indonesia kehilangan sekitar 9,75 juta hektar hutan primer antara 2001 dan 2021, menjadikannya salah satu negara dengan tingkat deforestasi tertinggi di dunia. Selain itu, laporan dari FAO menunjukkan bahwa 33% terumbu karang di Indonesia dalam kondisi kritis akibat aktivitas manusia.

Tantangan ini tidak hanya berdampak pada ekosistem tetapi juga pada masyarakat yang bergantung langsung pada sumber daya alam. Data dari BPS (2023) mengungkapkan bahwa lebih dari 70% masyarakat di kawasan pesisir dan hutan hidup dalam ketergantungan langsung pada sumber daya alam untuk mata pencaharian mereka. Ironisnya, kelompok ini sering menjadi yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim dan eksploitasi lingkungan, dengan tingkat kemiskinan di wilayah pesisir dan hutan mencapai hampir 20%.

Secara global, laporan dari IPCC (2023) menyoroti bahwa komunitas berbasis sumber daya alam, seperti masyarakat adat dan masyarakat pesisir, memainkan peran penting dalam pelestarian ekosistem. Namun, mereka sering kali menghadapi keterbatasan akses terhadap sumber daya, kurangnya pengakuan hukum atas wilayah adat, dan minimnya dukungan untuk pengelolaan berbasis komunitas.

Banner komitmen pendirian Aliansi BUMI KITA 2023 dengan tanda tangan seluruh peserta.
Banner yang ditandatangani oleh seluruh peserta sebagai komitmen mereka dalam pendirian Aliansi BUMI KITA.

Menyadari pentingnya peran masyarakat dalam konservasi, pada tahun 2023, tujuh lembaga lingkungan dari berbagai wilayah di Indonesia bergabung membentuk Aliansi BUMI KITA. Aliansi ini hadir sebagai gerakan kolektif yang bertujuan memperkuat kolaborasi lintas organisasi, menciptakan solusi berkelanjutan, dan memberdayakan masyarakat sebagai pelaku utama pelestarian lingkungan.

Menghubungkan Keberagaman Lanskap dan Program

Aliansi BUMI KITA mencerminkan kompleksitas ekosistem Indonesia melalui keberagaman lanskap dan pendekatan kerja dari lembaga anggotanya. Keunikan ini menjadi landasan bagi aliansi dalam menghadirkan solusi yang relevan dan adaptif untuk setiap wilayah:

Ypi Logo Fix (1) (1)

Hutan Tropis Kalimantan Barat: Yayasan Planet Indonesia (YPI) memberdayakan masyarakat melalui pengelolaan hutan berbasis komunitas, mendukung ekonomi berbasis alam, dan melindungi biodiversitas. Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai penjaga utama ekosistem.

 

Image 2025 01 14 134609637

Pesisir dan Hutan Gorontalo: Perkumpulan Jaring Advokasi Pengelolaan SDA (Japesda) menangani lintas ekosistem, termasuk kawasan laut, pesisir, dan darat, dengan mengintegrasikan pengelolaan berbasis masyarakat.

 

Logo Yayayasan Tananua Flores

Perbukitan Flores: Yayasan Tananua Flores (YTNF) memberdayakan petani kecil dengan mendorong praktik konservasi lahan yang berkelanjutan. Fokus mereka mencakup peningkatan ketahanan pangan, pemulihan lahan kritis, dan mitigasi perubahan iklim, menjadikan komunitas lokal sebagai motor penggerak perubahan.

 

 

 

Kki Logo SquareKepakan Kakatua: Konservasi Kakatua Indonesia (KKI) memimpin upaya pelestarian burung paruh bengkok dengan melibatkan komunitas adat dalam konservasi habitat. Pendekatan berbasis komunitas ini tidak hanya melindungi spesies tetapi juga melestarikan warisan budaya setempat.

 

 

 

Tlgc

 

Ekosistem Laut Sulawesi Tenggara: Toli-Toli Labengki Giant Clam Conservation (TLGC) melestarikan biodiversitas laut, termasuk kerang raksasa yang terancam punah. Dengan pendekatan konservasi berbasis masyarakat, TLGC memastikan keberlanjutan ekosistem laut yang mendukung mata pencaharian masyarakat pesisir.

 

 

2023 Akar New Logo (1)

Hutan dan Pesisir Bengkulu: AKAR Global Inisiatif (AKAR) berfokus pada pengelolaan berbasis masyarakat di wilayah hutan dan perbukitan yang rentan terhadap deforestasi. AKAR mengintegrasikan pendekatan pemberdayaan masyarakat lokal untuk meningkatkan kedaulatan agraria, pemulihan hutan, dan pelibatan aktif komunitas adat dalam konservasi.

 

Jari Logo 01 (1)

Kawasan Pesisir dan Laut Lombok: Yayasan Juang Laut Lestari (JARI) memimpin inisiatif untuk melestarikan ekosistem pesisir dan laut di Nusa Tenggara Barat. Dengan fokus pada pengelolaan berbasis masyarakat, JARI mendorong pemberdayaan nelayan lokal, memperkuat peran perempuan dalam pengelolaan sumber daya laut, dan mengadvokasi kebijakan yang mendukung keberlanjutan ekosistem pesisir.

 

 

Keberagaman ini menjadi kekuatan utama Aliansi BUMI KITA, memungkinkan setiap lembaga anggota menghadirkan solusi yang disesuaikan dengan tantangan lokal. Lebih dari sekadar kolaborasi, aliansi ini bercita-cita mewujudkan dampak kolektif yang menghubungkan wilayah dan ekosistem berbeda dalam satu mimpi bersama: masa depan yang lebih lestari bagi masyarakat dan lingkungan.

2023–2024: Menyusun Fondasi dan Menguatkan Identitas Aliansi BUMI KITA

Dalam perjalanan awalnya, Aliansi BUMI KITA memanfaatkan tahun 2023 hingga 2024 untuk membangun fondasi yang kokoh sebagai gerakan kolektif lintas lembaga. Periode ini diwarnai oleh upaya kolaboratif dalam menyusun kesepakatan bersama, memperkuat identitas aliansi, dan mengembangkan kapasitas bersama melalui pertukaran pembelajaran daring.

1. Menyusun Kesepakatan Bersama: Charter Aliansi BUMI KITA

Penyusunan dan diskusi terkait Charter Aliansi BUMI KITA menjadi salah satu langkah awal untuk memperjelas model inti, nilai-nilai, dan prinsip kerja kolektif. Charter ini dirancang untuk mencerminkan keunikan dan kekuatan setiap lembaga anggota, sambil memastikan keselarasan dalam tujuan dan pendekatan. Proses diskusi melibatkan semua lembaga anggota, memastikan bahwa dokumen ini benar-benar merepresentasikan aspirasi kolektif.

2. Membangun Identitas: Logo, Website, dan Branding

Untuk memperkuat kehadiran di tingkat nasional dan internasional, Aliansi BUMI KITA mengembangkan logo, website, dan elemen branding lainnya. Identitas visual ini dirancang untuk mencerminkan keberagaman aliansi sekaligus menyampaikan pesan yang kuat tentang komitmen terhadap pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan.

Website yang diluncurkan menjadi pusat informasi tentang program, capaian, dan visi aliansi, sekaligus platform untuk menjangkau mitra, donor, dan publik.

3. Pertukaran Pembelajaran Daring: Sharing Knowledge

Salah satu kegiatan inti selama 2024 adalah pertukaran pembelajaran daring melalui sesi berbagi pengetahuan lintas lembaga. Dua topik utama yang dibahas meliputi:

  • Peraturan Daerah Terkait Manajemen Sumber Daya Perairan Berbasis Masyarakat:
    Sesi ini mengeksplorasi kebijakan lokal yang mendukung pengelolaan sumber daya berbasis komunitas, termasuk strategi advokasi yang berhasil diimplementasikan di wilayah dampingan lembaga anggota.
  • Indeks untuk Analisis BTKT yang Dipimpin Masyarakat:
    Anggota aliansi mempelajari penggunaan indeks berbasis masyarakat untuk menganalisis keberlanjutan ekosistem laut dan darat. Indeks ini menjadi alat penting untuk mengukur dampak program konservasi secara partisipatif dan berorientasi pada hasil.

 

Langkah ke Depan: Bersama Menuju Dampak yang Lebih Besar

Foto bersama peserta pertemuan Aliansi BUMI KITA 2024 di Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Peserta pertemuan Aliansi BUMI KITA 2024 di Lombok berfoto bersama untuk menandai pembentukan kepengurusan baru dan memperkuat visi bersama dalam pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Pada 29–31 Oktober 2024, Aliansi BUMI KITA menggelar pertemuan tahunan kedua di Lombok. Perjumpaan ini merupankan pertemuan yang tidak hanya menjadi refleksi perjalanan tetapi juga penetapan arah baru. Dalam suasana yang penuh semangat, anggota aliansi berkumpul untuk mendiskusikan visi bersama, menyelaraskan prioritas, dan menetapkan rencana strategis jangka panjang yang lebih terintegrasi.

Momen Refleksi: Belajar dari Perjalanan

Diskusi dibuka dengan refleksi atas perjalanan tahun sebelumnya. Salah satu sorotan utama adalah keberhasilan program pertukaran pembelajaran antar-lembaga, yang memperkuat jejaring dan berbagi praktik terbaik di tingkat tapak. Namun, anggota juga mengakui perlunya daya dukung yang lebih terarah dan terukur, baik dalam hal pendanaan maupun koordinasi, agar aliansi dapat berfungsi lebih efektif sebagai gerakan kolektif.

Kebutuhan ini menjadi landasan bagi penyusunan strategi yang lebih mendalam, yang mencakup tiga tujuan utama:

  1. Memperkuat Aksi Kolektif:
    Aliansi BUMI KITA menegaskan komitmennya untuk membangun wadah pembelajaran bersama. Wadah ini tidak hanya menjadi tempat berbagi pengetahuan teknis tetapi juga ruang kolaborasi untuk mengembangkan program bersama yang mencerminkan kebutuhan unik setiap lembaga anggota.
  2. Mengonsolidasikan Pendanaan:
    Sadar akan pentingnya keberlanjutan finansial, aliansi menyusun strategi pendanaan kolaboratif untuk mengakses sumber daya finansial dari tingkat nasional dan internasional. Pendekatan ini tidak hanya dirancang untuk mendukung aliansi secara keseluruhan tetapi juga memperkuat kapasitas finansial masing-masing lembaga anggota.
  3. Meningkatkan Bukti Dampak Berbasis Komunitas:
    Aliansi sepakat untuk mengembangkan sistem Monitoring, Evaluasi, dan Pembelajaran (MEL) yang lebih kuat. Dengan sistem ini, setiap program yang dijalankan tidak hanya terukur dampaknya tetapi juga dapat dipublikasikan sebagai studi kasus yang menarik minat donor dan pemangku kepentingan lainnya.

Struktur Kepengurusan yang Demokratis

Aliansi BUMI KITA memilih kepengurusan baru untuk memastikan arah gerakan yang jelas dan inklusif. Struktur kepengurusan periode 2024–2027 terdiri dari:

Struktur organisasi Aliansi BUMI KITA periode 2025–2029.
Struktur organisasi Aliansi BUMI KITA untuk periode 2025–2029.

Kolaborasi untuk Dampak yang Lebih Besar

Pertemuan ini juga menghasilkan kesepakatan untuk mendukung penguatan kapasitas masing-masing lembaga anggota. Setiap lembaga diharapkan mampu menskalakan dampaknya di tingkat tapak, baik melalui pelatihan, pengembangan sumber daya manusia, maupun akses ke pendanaan baru.

“Ini bukan hanya tentang bekerja bersama, tetapi tentang menciptakan ekosistem kolaborasi yang memungkinkan kita semua untuk tumbuh dan berdampak lebih besar,” ujar Pramudya Lazuardi, Ketua Umum Aliansi.

Menuju Pondasi yang Lebih Strategis

Tahun 2025 akan menjadi tonggak penting bagi Aliansi BUMI KITA, dengan fokus pada penguatan fondasi internal dan kolaborasi lintas lembaga yang lebih strategis. Tahapan ini dirancang untuk menjawab tantangan yang telah diidentifikasi sepanjang perjalanan aliansi, sekaligus membuka jalan menuju dampak yang lebih besar dan berkelanjutan.

1. Membangun Sistem Identifikasi untuk Lembaga dan Aliansi

Untuk menjawab kebutuhan nasional dan internasional, Aliansi akan mulai membangun sistem yang memungkinkan identifikasi yang lebih terukur tentang potensi, tantangan, dan capaian lembaga anggota serta aliansi secara keseluruhan.

  • Pemetaan Kapasitas dan Dampak: Menyusun sistem untuk mengidentifikasi kekuatan utama setiap lembaga anggota, sehingga mendukung perencanaan program kolektif yang lebih strategis.
  • Profilisasi Lembaga: Mengembangkan profil yang dapat digunakan untuk menunjukkan peran dan capaian masing-masing lembaga kepada mitra dan donor.

2. Penguatan Internalisasi Aliansi BUMI KITA

Langkah pertama dalam rencana kerja tahun 2025 adalah memastikan bahwa seluruh lembaga anggota memiliki pemahaman yang sama tentang visi, misi, dan tujuan bersama. Untuk mencapai ini, Aliansi akan:

  • Mengembangkan Panduan Aliansi: Menyusun dokumen panduan yang mencakup nilai, prinsip kerja, dan mekanisme kolaborasi, sehingga setiap lembaga anggota merasa terhubung dengan identitas kolektif aliansi.
  • Peningkatan Komunikasi Internal: Membuat platform komunikasi yang efisien untuk memastikan keterlibatan dan aliran informasi yang lebih baik di antara anggota.

3. Menjembatani Pertukaran Pembelajaran yang Lebih Konkret

Salah satu kekuatan Aliansi BUMI KITA adalah kemampuan untuk berbagi praktik terbaik di antara lembaga anggota. Tahun 2025 akan memperdalam pendekatan ini dengan:

  • Menghubungkan Kebutuhan dan Keahlian: Memetakan kebutuhan spesifik setiap lembaga anggota dan mencocokkannya dengan keahlian yang tersedia di aliansi.
  • Menyelenggarakan Program Peer-to-Peer: Mengadakan program pertukaran lintas lembaga yang lebih terstruktur, termasuk kunjungan lapangan dan pelatihan teknis yang relevan dengan tantangan spesifik masing-masing wilayah.

4. Penyusunan Sistem Keuangan dan Pelaporan Bersama

Aliansi BUMI KITA menyadari pentingnya tata kelola keuangan yang baik untuk menjaga kredibilitas di mata mitra dan donor. Oleh karena itu, fokus 2025 mencakup:

  • Membangun Sistem Keuangan Kolektif: Menyusun mekanisme keuangan bersama yang transparan dan akuntabel untuk mendukung pengelolaan dana aliansi dan lembaga anggota.
  • Pelaporan Terintegrasi: Mengembangkan format pelaporan standar yang mencerminkan kontribusi dan dampak kolektif.

5. Meningkatkan Monitoring, Evaluasi, dan Pembelajaran (MEL)

MEL akan menjadi fondasi untuk memastikan bahwa setiap upaya aliansi dan lembaga anggotanya dapat diukur, dievaluasi, dan diperbaiki secara kolektif. Langkah-langkah ini meliputi:

  • Sistem MEL untuk Aliansi: Menyusun kerangka kerja yang dapat mengukur dampak kolektif dari program aliansi.
  • Meningkatkan Kapasitas MEL di Tingkat Lembaga: Memberikan pelatihan untuk memastikan lembaga anggota memiliki alat dan kemampuan untuk mengevaluasi program mereka secara mandiri.

Bersama untuk Masa Depan yang Lebih Lestari

Aliansi BUMI KITA adalah cerminan dari semangat kolaborasi yang menghubungkan keberagaman ekosistem, komunitas, dan visi. Perjalanan sejak 2023 hingga 2024 telah menunjukkan bahwa kolaborasi lintas lembaga mampu menciptakan fondasi yang kuat untuk dampak kolektif yang berkelanjutan. Dengan keberagaman lanskap, pendekatan, dan tantangan yang dihadapi oleh setiap lembaga anggota, aliansi ini telah memulai langkah besar untuk menyatukan potensi dalam satu gerakan kolektif yang inklusif.

Namun, tantangan masih ada di depan. Daya dukung yang lebih konkrit, penguatan kapasitas internal, dan integrasi strategi tetap menjadi fokus utama untuk menjawab kebutuhan lokal sekaligus meningkatkan posisi aliansi di panggung nasional dan internasional. Tahun 2025 menjadi kesempatan untuk membawa visi ini lebih jauh, dengan melibatkan masyarakat sebagai pusat dari setiap langkah konservasi dan pemberdayaan.

Kami percaya bahwa perubahan besar dimulai dari kerja sama kecil yang terstruktur dan terarah. Oleh karena itu, kami mengundang Anda—donor, mitra, komunitas, dan individu peduli—untuk bergabung dengan perjalanan ini. Bersama, kita dapat melindungi ekosistem yang rapuh, memperkuat masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam, dan membangun masa depan yang lebih lestari bagi Indonesia dan dunia.

Mari berkontribusi, mari bertindak, mari berkolaborasi!

id_IDID